Tuesday, December 18, 2012

manusia dalam perspektif al-Qur'an



oleh: Shary
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu, manusia dan berbagai hal dalam dirinya sering menjadi perbincangan diberbagai kalangan. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli telah mencetuskan pengertian manusia sejak dahulu kala, namun sampai saat ini belum ada kata sepakat tentang pengertian manusia yang sebenarnya. Hal ini terbukti dari banyaknya sebutan untuk manusia, misalnya homo sapien (manusia berakal), homo economices (manusia ekonomi) yang kadangkala disebut Economical Animal (binatang ekonomi), dan sebagainya.
Agama Islam sebagai agama yang paling baik tidak pernah menggolongkan manusia kedalam kelompok binatang. Hal ini berlaku selama manusia itu mempergunakan akal pikiran dan semua karunia Allah SWT dalam hal-hal yang diridhai-Nya. Namun, jika manusia tidak mempergunakan semua karunia itu dengan benar, maka derajat manusia akan turun, bahkan jauh lebih rendah dari seekor binatang. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 179 sebagai berikut:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونÇÊÐÒÈ
  
Artinya:
179. dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai.
Berbicara tentang manusia berarti kita berbicara tentang dan pada diri kita sendiri makhluk yang paling unik di bumi ini. Banyak di antara ciptaan Allah yang telah disampaikan lewat wahyu yaitu kitab suci. Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah dikaruniainya akal. Dengan dikaruniai akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta ciptaan Allah adalah sebagai amanah.
Selain itu, manusia juga dilengkapi unsur lain yaitu hati. Dengan hatinya,  manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran ilahi secara spiritual.
Olehnya itu, kami akan mencoba menguraikan pembahasan mengenai manusia dari perspektif Al-Qur’an.
B.     Rumusan Masalah
1.      Defenisi Manusia!
2.      Bagaimana perspektif Al-Qur’an mengenai manusia?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Defenisi Manusia
Adinegoro dalam bukunya “Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia” mengatakan: manusia adalah alam kecil sebahagian dari alam yang besar yang ada di atas bumi, sebahagian dari alam yang bernyawa, sebahagian dari bangsa Antropomorphen, binatang yang menyusui. Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang mengetahui kealamannya, yang mengetahui dan dapat menguasai kekuatan-kekuatan alam baik dari dalam dirinya maupun dari luar.
Akan tetapi, Al-Qur’an sering kali menyebut manusia dengan lafadz al-basyar, al-insan, al-nas, bani adam, dan zuriyat adam.[1] Masing-masing dari kata tersebut memiliki pendekatan yang berbeda-beda, berikut rinciannya:
1.      Al-basyar,ditinjau dari pendekatan biologis.
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ   §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ   ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ[2]  
Terjemahnya:
12. Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
            Kata البشر terdiri dari huruf ba, syin, dan ra yang bermakna tampaknya sesuatu dengan baik dan indah. Dari makna ini terbentuk kata kerja بشر yang berarti bergembira, menggembirakan, menguliti, dan mengurus sesuatu. [3]
            Menurut al-Ashfahani, kata  بشر adalah jamak dari kata بشرة  (basyarah) yang berarti kulit. Manusia disebut basyar karena kulit manusia tampak jelas dan berbeda dibanding dengan kulit hewan lainnya.[4]
Penelitian terhadap kata manusia yang disebut al-Qur’an dengan menggunakan kata بشر menyebutkan, bahwa yang dimaksud manusia  بشر adalah anak turun Adam, makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek fisik itulah yang membuat pengertian بشر mencakup anak turun Adam secara keseluruhan. Menurut Abdul Mukti Ro’uf, kata بشر disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mus\anna.
Jalaluddin mengatakan bahwa berdasarkan konsep بشر, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembang biak. Sebagaimana halnya dengan makhluk biologis lain, seperti binatang. Mengenai proses dan fase perkembangan manusia sebagai makhluk biologis, ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, yaitu:
a.       Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan manusia berawal dari pembuahan (pembuahan sel dengan sperma) di dalam rahim, pembentukan fisik.[5]
b.      Post natal (sesudah lahir) proses perkembangan dari bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut.[6]
Secara sederhana, Quraish Shihab menyatakan bahwa manusia dinamai بشر karena kulitnya yang tampak jelas dan berbeda dengan kulit-kulit binatang yang lain. Dengan kata lain, kata basyar senantiasa mengacu pada manusia dari aspek lahiriahnya, mempunyai bentuk tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di dunia ini. Dan oleh pertambahan usianya, kondisi fisiknya akan menurun, menjadi tua, dan akhirnya ajalpun menjemputnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dalam البشر ini dapat berubah fisik, yaitu semakin tua fisiknya akan semakin lemah dan akhirnya meninggal dunia. Dan dalam konsep البشر ini juga dapat tergambar tentang bagaimana seharusnya peran manusia sebagai makhluk biologis. Bagaimana dia berupaya untuk memenuhi kebutuhannya secara benar sesuai tuntunan Penciptanya. Yakni dalam memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier.
2.      Al-insan, berasal dari kata نسي (nasia) yang berarti lupa, memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang secara fisik dan mental spiritual, seperti berbicara, menguasai ilmu pengetahuan, kemampuan untuk mengenal Tuhan dan mengembangkan sumber daya insaninya. Ada juga yang berpendapat bahwa kata al-insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak.[7]
Kata insan bila dilihat asal kata al-nas, berarti melihat, mengetahui, dan minta izin. Atas dasar ini, kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia dengan kemampuan penalarannya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari hal-hal yang dilihatnya, dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, serta dapat meminta izin ketika akan menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Berdasarkan pengertian ini, tampak bahwa manusia mampunyai potensi untuk dididik.
Potensi manusia menurut konsep al-Insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi. Jelas sekali bahwa dari kreativitasnya, manusia dapat menghasilkan sejumlah kegiatan berupa pemikiran (ilmu pengetahuan), kesenian, ataupun benda-benda ciptaan. Kemudian melalui kemampuan berinovasi, manusia mampu merekayasa temuan-temuan baru dalam berbagai bidang. Dengan demikian manusia dapat menjadikan dirinya makhluk yang berbudaya dan berperadaban.
Menurut Quraish Shihab, kata al-Insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan.[8]
3.      al-nas, identik dengan fungsi manusia sebagai mahluk sosial.
Dalam konsep al-nas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Tentunya sebagai makhluk sosial manusia harus mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial artinya tidak boleh sendiri-sendiri. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri.
Jika kita kembali ke asal mula terjadinya manusia yang bermula dari pasangan laki-laki dan wanita (Adam dan Hawa), dan berkembang menjadi masyarakat dengan kata lain adanya pengakuan terhadap spesies di dunia ini, menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara dan tidak boleh saling menjatuhkan. Secara sederhana, inilah sebenarnya fungsi manusia dalam konsep al-nas.
4.      Bani adam dan zurriyat Adam, dalam konteks ini manusia diingatkan Allah agar tidak tergoda oleh setan, sebagaimana Nabi Adam dahulu dikeluarkan dari neraka karena tergoda oleh rayuan setan.
Adapun kata bani adam dan zurriyat Adam, yang berarti anak Adam atau keturunan Adam, digunakan untuk menyatakan manusia bila dilihat dari asal keturunannya.
Menurut Thabathaba’i dalam Samsul Nizar, penggunaan kata bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu:
Pertama, anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, di antaranya adalah dengan berpakaian guna manutup auratnya.
Kedua, mengingatkan pada keturunan Adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak kepada keingkaran.
Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka ibadah dan mentauhidkanNya. Kesemuanya itu adalah merupakan anjuran sekaligus peringatan Allah dalam rangka memuliakan keturunan Adam dibanding makhluk-Nya yang lain.
Lebih lanjut Jalaluddin mengatakan konsep Bani Adam dalam bentuk menyeluruh adalah mengacu kepada penghormatan kepada nilai-nilai kemanusian.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia dalam konsep Bani Adam, adalah sebuah usaha pemersatu (persatuan dan kesatuan) tidak ada perbedaan sesamanya, yang juga mengacu pada nilai penghormatan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian serta mengedepankan HAM karena yang membedakan hanyalah ketaqwaannya kepada Pencipta.[9]
5.      Al-Ins yang berarti senang, jinak dan harmoni, dalam konteks ini manusia selaku hamba, pengabdi Allah secara konsisten dengan penuh ketaatan di samping jin.
Kata al-Ins dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali, masing-masing dalam 17 ayat dan 9 surat. Muhammad Al-Baqi dalam Jalaluddin memaparkan al-Ins adalah homonim dari al-Jins dan al-Nufur. Lebih lanjut Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan jin, maka manusia adalah makhluk yang kasab mata.
Sedangkan jin adalah makhluk halus yang tidak tampak. Sisi kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata al-Ins dalam arti “tidak liar” atau “tidak biadab”, merupakan kesimpulan yang jelas bahwa manusia yang ins itu merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik yang identik dengan liar atau bebas.
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dalam konsep al-ins manusia selalu di posisikan sebagai lawan dari kata jin yang bebas. bersifat halus dan tidak biadab. Jin adalah makhluk bukan manusia yang hidup di alam “antah berantah” dan alam yang tak terinderakan. Sedangkan manusia jelas dan dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungan yang ada.
6.      Abdullah, dalam konsep ini ternyata peran manusia harus disesuaikan dengan kedudukannya sebagai abdi (hamba), dengan demikian berarti manusia harus tunduk dan taat kepada ketentuan pemiliknya yaitu Allah.
M. Quraish Shihab dalam Jalaluddin, seluruh makhluk yang memiliki potensi berperasaan dan berkehendak adalah Abd Allah dalam arti dimiliki Allah. Selain itu, kata Abdullah juga bermakna ibadah, sebagai pernyataan kerendahan diri.
Menurut M.Quraish Shihab dan Ja’far al-Shadiq memandang ibadah sebagai pengabdian kepada Allah baru dapat terwujud bila seseorang dapat memenuhi tiga hal, yaitu:
a.       Menyadari bahwa yang dimiliki termasuk dirinya adalah milik Allah dan berada di bawah kekuasaan Allah.
b.       Menjadikan segala bentuk sikap dan aktivitas selalu mengarah pada usaha untuk memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
c.       Dalam mngambil keputusan selalu mengaitkan dengan restu dan izin Allah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam konsep Abd Allah, manusia merupakan hamba yang seyogyanya merendahkan diri kepada Allah. Yaitu dengan menta’ati segala aturan-aturan Allah.
7.      Khalifah.
Melihat dari aspek etimologi, kata khalifah berasal dari bahasa Arab yang berakar dari kata dasar خلف sebagaimana yang disebutkan oleh Abu> H}usa>in Ah}mad ibn Fa>ris ibn Zakari>ya dalam Maqa>yis al-Lughahnya bahwa kata tersebut terdiri dari 3 huruf, yaituKha, lam dan fayang memiliki 3 makna yaitu :
Pertama: datangnya sesuatu setelah sesuatu itu mengganti posisinya, arti kata ini dapat ditemukan dalam Q.S. Maryam/19: 59 :
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya:
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”.[10]
Kedua: lawan dari kata depan/muka, dan yang ketiga: pengganti atau perubahan”.[11]
Sementara dalam Mu’jam al-Alfaz} wa al-‘Alam al-Qur’āni>yah disebutkan bahwa :
جاء بعده وأقام مقامه, وخلف الشيء : تركه وراءه وخالف خلافا : ضد وافق خالفعن كذا[12]
“Datang sesudahnya dan mengganti posisi/tempatnya, dibelakang sesuatu, meninggalkannya, dibelakangnya, berbeda dengan perbedaan yang sebenarnya lawan dari kata setuju dan berbeda dengan sesuatu”.
Al-Asfaha>ni> mengatakan bahwa kata khalifah bermakna menggantikan yang lain, baik karena yang digantikan itu tidak ada tempat, kematian, sudah tidak memiliki kemampuan, atau sudah lemah, suatu penghormatan yang diberikan kepada si pengganti.[13]
Dalam konsep ini manusia dibekali ilmu pengetahuan untuk mengemban amanat yang dibebankan Allah untuk mengatur dan memanfaatkan semua potensi yang ada di dunia, dan inilah yang menjadi pembeda dengan mahluk-mahluk ciptaan Allah yang lain.
Pada hakikatnya eksistensi manusia dalam kehidupan dunia ini adalah untuk melaksanakan kekhalifahan, yaitu membangun dan mengelola dunia tempat hidupnya ini., sesuai dengan kehendak Penciptanya. Menurut Jalaluddin, peran yang dilakonkan oleh manusia menurut statusnya sebagai khalifah Allah setidak-tidaknya terdiri dari dua jalur, yaitu jalur horizontal dan jalur vertikal.
Peran dalam jalur horizontal mengacu kepada bagaimana manusia mengatur hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Sedangkan peran dalam jalur vertikal menggambarkan bagaimana manusia berperan sebagai mandataris Allah. Dalam peran ini manusia penting menyadari bahwa kemampuan yang dimilikinya untuk menguasai alam dan sesama manusia adalah karena penegasan dari Penciptanya.
Setelah meneliti berulang kali, penulis menemukan kata khalifah beserta dengan perubahan-perubahannya dalam kaedah bahasa Arab disebut sebanyak 127 kali disebut dalam al-Qur’ān dalam 12 kata jadian.[14]Terkhusus kepada kata yang memiliki arti atau yang bermaknakan pengganti, penguasa, khalifah disebutkan sebanyak 21 kali.[15]
Dari penggunaan kata khalifah dari beberapa ayat di atas dapat dirumuskan bahwa kekhalifahan mengharuskan empat sisi yang saling berkaitan, yaitu:
a.       Allah sebagai pemberi amanah kekhalifahan atau mustakhlif.
b.      Manusia sebagai penerima amanah kekhalifahan. Dengan demikian, manusia dalam melaksanakan amanah kekhalifahan mesti sesuai dengan ketetapan-ketetapan Allah sebagai pemberi amanah.
c.       Bumi sebagai tempat peaksanaan atau objek kekhalifahan, sekaligus menjadi batas wilayah kekhalifahan manusia. Bumi dan segala isinya termasuk manusianya diciptakan untuk dikelola oleh manusia itu sendiri. Dengan demikian, manusia sebagai khalifah dan alam semesta sebagai objek kekhalifahan memiliki hubungan yang erat dan tak terpisahkan. Dengan kata lain, khalifah dan alam semesta memiliki ketergantungan satu sama lain. Karena itu, manusia sebagai khalifah harus memelihara dengan sebaik-baiknya.
d.      Materi tugas kekhalifahan adalah memakmurkan bumi dan membangun kehidupan damai sebagai bayangan kehidupan syurgawi. Di sisi lain, manusia bertugas menghindarkan bumi dari kerusakan dan pertumpahan darah dengan cara tidak mengikuti hawa nafsunya.
Tugas kekhalifahan tidak akan berhasil jika materi-materi penugasan tidak dilaksanakan atau apabila kaitan antara penerima tugas dengan lingkungan tidak diperhatikan. Dengan demikian, agar tugas kekhalifahan berhasil maka penjabaran tugas kekhalifahan harus sejalan dan diangkat dari kondisi masyarakat yang menjadi sasaran tugas itu.
Sedangkan menurut Muh}ammad Ba>qir al-S}adr dalam karyanya “al-Suna>n al-Tarikhi>yah fi>> al-Qura>n”, ada empat unsur juga yang membentuk kekhalifahan sebagaimana yang telah penulis sebutkan di atas. Perbedaannya, Muh}ammad Ba>qir menyatakan bahwa unsur yang keempat yaitu hubungan antara manusia dan alam raya beserta segala isinya.[16]
Untuk kesuksesan tugas kekhalifahan tersebut, maka Allah melengkapi manusia dengan potensi-potensi tertentu seperti kemampuan untuk mengetahui sifat, fungsi, dan kegunaan segala macam benda.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “manusia” diartikan sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).[17]
Dengan demikian, makna manusia dalam al-Qur’an dengan istilah al-basyar, al-insan, al-nas dan bani Adam mencerminkan karakteristik dan kesempurnaan penciptaan Allah terhadap makhluk manusia, bukan saja sebagai makhluk biologis dan psikologis melainkan juga sebagai makhluk religius, makhluk sosial dan makhluk bermoral serta makhluk kultural yang kesemuanya mencerminkan kelebihan dan keistimewaan manusia daripada makhluk-makhluk Tuhan lainnya.
B.     Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an
1.      Hakikat kejadian manusia
Menurut teori evolusi Darwin bahwa asal kejadian manusia adalah dari binatang yang bernama kera. Sedangkan menurut Rifyal Ka’bah berbendapat bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan proses kejadian manusia secara ilmiah dan terperinci.[18]
Al-Qur’an menguraikan proses kejadian manusia dalam dua tahap yaitu:
Tahap pertama, proses kejadian/penciptaan manusia pertama dijelaskan dalam surah al-Sajadah (32): 7 sebagai berikut:
üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ  
Artinya:
7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Di ayat lain dinyatakan bahwa manusia terbuat dari tanah liat kering sebagaimana dalam firman-Nya sebagai berikut:
øŒÎ)ur tA$s% y7/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) 7,Î=»yz #\t±o0 `ÏiB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*yJym 5bqãZó¡¨B ÇËÑÈ[19]  
Artinya:
28. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Berdasarkan dua ayat di atas, maka dapat diketahui bahwa manusia pertama diciptakan dari tanah.
Tahap kedua, kejadian manusia keturunan dari manusia pertama yang terbuat dari air mani. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Sajadah (32): 8.
¢OèO Ÿ@yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ[20]  
Artinya:
8. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.
Dalam ayat lain dinyatakan:
uqèd Ï%©!$# Nà6s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? §NèO `ÏB 7pxÿõÜœR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ §NèO öNä3ã_̍øƒä WxøÿÏÛ §NèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£ä©r& ¢OèO (#qçRqä3tFÏ9 %Y{qãŠä© 4 Nä3ZÏBur `¨B 4¯ûuqtGム`ÏB ã@ö6s% ( (#þqäóè=ö7tFÏ9ur Wxy_r& wK|¡B öNà6¯=yès9ur šcqè=É)÷ès? ÇÏÐÈ  
Terjemahnya:
67. Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).
2.      fitrah manusia
Al-Qur’an menyatakan bahwa agama Islam diciptakan Allah sesuai dengan fitrah manusia.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
Artinya:
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.[21]
Fitrah adalah bentuk dan system yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Adapun fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya. Fitrah manusia adalah bawaannya sejak lahir.
Menurut para ahli antropologi, fitrah pokok manusia terdiri atas tiga yakni: a) mempertahankan hidup dengan cara makan dan minum tapi hendaknya yang halal dan baik, b) melangsungkan hidup melalui pernikahan, dan 3) membela hidup.
3.      Potensi  manusia
Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang memuji dan memuliakan manusia seperti tentang penciptaan manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya yaitu dalam surah al-Tin (95): 5, penegasan tentang kemulian manusia dibandingkan makhluk yang lain yakni dijelaskan dalam surah al-Isra’ (17): 70, dan masih banyak ayat lainnya.
Manusia tidak bisa terlepas dari dua hal yakni kelebihan/potensi dan kekurangan. Adapun potensi yang dimiliki oleh manusia adalah mengetahui nama dan fungsi benda-benda alam,[22] pengalaman hidup di surga baik yang berkaitan dengan kecukupan dan kenikmatannya maupun rayuan iblis dan akibat buruknya, dan sebagainya.
Adapun kekurangan/kelamahan manusia adalah ketika ia tidak menempatkan sesuatu pada fungsinya misalnya mata, ia tidak menggunakan matanya untuk melihat hal-hal yang ma’ruf tapi malah hal-hal yang berbaur maksiat. Mereka memiliki akal tetapi tidak dipergunakan untuk berfikir pada jalan yang benar, mereka memiliki mata tetapi tidak dipakai untuk melihat yang benar, mereka memiliki pendengaran juga tidak dipakai untuk mendengar kalimat-kalimat Allah yang seharusnya dapat menuntun hidup mereka. Akhirnya mereka tidak ada ubahnya seperti binatang bahkan lebih rendah daripada binatang sebagaimana dalam firman Allah:
ôs)s9ur $tRù&usŒ zO¨YygyfÏ9 #ZŽÏWŸ2 šÆÏiB Çd`Ågø:$# ħRM}$#ur ( öNçlm; Ò>qè=è% žw šcqßgs)øÿtƒ $pkÍ5 öNçlm;ur ×ûãüôãr& žw tbrçŽÅÇö7ム$pkÍ5 öNçlm;ur ×b#sŒ#uä žw tbqãèuKó¡o !$pkÍ5 4 y7Í´¯»s9'ré& ÉO»yè÷RF{$%x. ö@t/ öNèd @|Êr& 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNèd šcqè=Ïÿ»tóø9$# ÇÊÐÒÈ  
Terjemahnya:
179. dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.
4.      Akal, hati, dan nafs
Salah satu perbedaan antara manusia dengan binatang adalah akal. Menurut Al-Qur’an, akal adalah daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu,[23] dorongan moral,[24] dan al-Mulk (67): 10.
Kata qalbu berasal dari bahasa Arab yang bermakna membalik karena seringkali ia berbolak-balik, terkadang setuju dan terkadang pula menolak. Sedangkan dalam penggunaannya dalam bahasa Indonesia sering diartikan hati. Hati adalah wadah untuk menampung hal-hal yang disadari oleh pemiliknya. Inilah yang membedakan antara qalbu/hati dan nafs. Sebagaimana yang diketahui bahwa nafs adalah wadah yang menampung hal-hal yang berada di bawah alam sadar sehingga yang diminta pertanggung jawabannya bukan nafs tapi hati.
Allah berfirman:
žw ãNä.äÏ{#xsムª!$# Èqøó¯=9$$Î/ þÎû öNä3ÏY»yJ÷ƒr& `Å3»s9ur Nä.äÏ{#xsム$oÿÏ3 ôMt6|¡x. öNä3ç/qè=è% 3 ª!$#ur îqàÿxî ×LìÎ=ym ÇËËÎÈ  
Terjemahnya:
225. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
Adapun nafs dalam Al-Qur’an mempunyia aneka makna di antaranya diartikan sebagai totalitas.[25]
5.      Ruh
Kata ruh ketika dikaitkan dengan manusia menggunakan konteks yang berbeda-beda maka sulit untuk menetapkan maknanya apalagi. Mengenai ruh dijelaskan dalam firman Allah Q.S. Al-Isra (17): 85  sebagai berikut:
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ̍øBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ  
Terjemahnya”
85. dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari beberapa uraian makalah mengenai manusia dalam perspektif. Al-Qur’an sering kali menyebut manusia dengan lafadz al-basyar, al-insan, al-nas, bani adam, dan zuriyat adam.
Manusia dalam perspektif al-Qur’an memiliki potensi yang siap untuk diasah dan dikembangkan, akal yang harus digunakan untuk memikirkan ciptaan Alla, qalbu, meski sering berbolak-balik tapi tetap harus ada usaha untuk tetap istiqomah dalam kebaikan, nafs adalah wadah yang menampung pikiran manusia di bawah alam sadar, dan ruh adalah bagian terpenting dari manusia. Jika tak ada ruh maka manusia tidak dikatakan manusia tapi mayat.
B.     Saran dan kritik
Pembahasan mengenai Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an sangat panjang sehingga tidak memungkinkan bagi kami menulis secara mendalam atau keseluruhan. Olehnya itu, kami mengharap masukan baik berupa saran maupun kritik yang bersifat membangun dari pembaca maupun dari dosen yang bersangkutan.



Daftar Pustaka
Abi> al-H}usa>in Ah}mad ibn Fa>ris ibn Zakari>ya>. Maqa>yis al-Lughah. Juz II. Lebanon: Da>r al-Fikri>. 1979.
Al-Ba>qi, Muh}ammad Fu>’ad Abdu>. Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz} al-Qur’a>n al-Kari>m. Cet. I; Kairo: Da>r al-H}adi>s|, 1996.
Departemen Agama RI, Al-Qura>n dan Terjemahnya. Jakarta: CV. Da>rus Sunnah, 2002.
Ibra>hi>m, Muh}ammad Isma>il. Mu’jam al-Alfaz}} wa al-‘Alam al-Qur’āni>yah. Al-Qa>hirah: Da>r al-Fikri> al-‘Arabi>. 1968.
Al-Mis{ry, Muhammad ibn Mukrim ibn Mans{u>r al-Afriqy. Lisa>n al-Arab. Juz IV. Cet. 1; Beirut: Da>r al-S}a>dr. t. th..
Al-Raghi>b, Abu> al-Qa>sim Abu> al-Husa>in ibn Muhammad al-As}faha>ni>. Al-Mufradat al-Qura>n. Mesir: Must}afa> al-Ba>b al-H}alabi>. 1961.
Shihab, M. Quraish et al.. eds.. Ensiklopedi Al-Qur’an: Kajian Kosa-Kata. Cet. 1; Jakarta: Lentera Hati. 2007.
Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Quran. Cet. XVII; Bandung: 2006.
TPKP3B (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud dan Balai Pustaka. 1997.
Zaini, Syahminan. Mengenal Manusia Lewat Al-Qur’an. t.d..




[1]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran (Cet. XVII; Bandung: 2006), h. 278.
[2]Q.S. Al-Mu’minun (23): 12-14.
[3]Muhammad ibn Mukrim ibn Mans{u>r al-Afriqy al-Mis{ry, Lisa>n al-Arab, Juz IV (Cet. 1; Beirut: Da>r al-S}a>dr, t. th.), h. 59. 
[4] M. Quraish Shihab, et al., eds., Ensiklopedi Al-Qur’an: Kajian Kosa-Kata (Cet. 1; Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 137.
[5]Q.S. Al-Mu’minun/23: 12-14.
[6]Q.S. Al-Mu’min/40: 67.
[7]M. Quraish Shihab, op. cit., h. 280.
[8]Ibid.,
[9]Q.S. Al-Hujurat/ 49 : 13.
[10]Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya () h. 310. 
[11]Abi> al-H}usa>in Ah}mad ibn Fa>ris ibn Zakari>ya>, Maqa>is al-Lughah, Juz II (Lebanon: Da>r al-Fikri>, 1979), h. 210.
[12]Muh}ammad Isma>il Ibra>hi>m, Mu’jam al-Alfaz}} wa al-‘Alam al-Qur’āni>yah, (Al-Qa>hirah: Da>r al-Fikri> al-‘Arabi>, 1968), h. 159.
[13]Abu> al-Qa>sim Abu> al-Husa>in ibn Muhammad al-As}faha>ni> al-Raghi>b, Al-Mufradat al-Qura>n, (Mesir: Must}afa> al-Ba>b al-H}alabi>, 1961), h. 79.
[14]Muh}ammad Fu>’ad Abdu Al-Ba>qi>, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz} al-Qur’a>n al-Kari>m (Cet. I; Kairo: Da>r al-H}adi>s|, 1996), h. 294-296.
[15]Q.S. al-A’ra>f/7: 69, 74, 129, 142, 169 (2 kali); Q.S. Saba’/34: 39; Q.S. al-Nur/24: 55 (2 kali); Q.S. al-An’a>m/6: 133 dan 165; Q.S. Yu>suf/12: 14 dan 73; Q.S. Fa>t}ir/35: 39; Q.S. Hu>d/11: 57; Q.S. Maryam/19: 59 (2 kali); Q.S. al-Baqarah/2: 30; Q.S. S}a>d/38: 26, Q.S. al-Naml/27: 62; dan Q.S. al-H}adi>d/57: 7.
[16]M. Qurais} S}iha>b, et al., eds., Ensiklopedia al-Qura>n, (Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 453.
[17]TPKP3B (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa), Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Depdikbud dan Balai Pustaka, 1997), h. 629.   
[18]Syahminan Zaini, Mengenal Manusia Lewat Al-Qur’an (t.d.), h. 9. Untuk mengetahui secara detail ayat al-Qur’an yang membahas tentang proses kejadian manusia maka lihat Q.S. Al-Nisa>’: 1, Q.S. Al-Sajadah: 7-8, Q.S. Al-Hijr: 28-29, Q.S. Al-Mu’minun: 12-14, 67, Q.S. Al-Qiyamah: 37, Q.S. Al-Insa>n: 2,  Q.S. Al-Najm: 45, Q.S. Nuh: 14, dan Q.S. Al-Hajj: 5.
[19]Q.S. Al-Hijr (15): 28.
[21]Adapun yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal  itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
[22]Q. S. Al-Baqarah/2: 31.
[23]Q.S. Al-Ankabut (29): 43.
[24]Q.S. Al-An’a>m (6): 151.

No comments: